assalamu’alaikum!
setelah lama tumblr ini terlantar sibuk karena tugas akhir dengan sidang di waktu kelewat injury time. rasa2nya ga ada waktu bwt nulis ginian. dan akhirnya muncul lagi saya dengan status yang berbeda. #pengangguran. ahaha. post power sindrom. dari mahasiswa hyperaktivist menjadi sleeping handsome unemployedman. sepertinya menulis seperti ini lebih membunuh waktu dengan manfaat. semoga tidak terlantar lagi si samudera langit.
…
tahukah anda? tepat sebelum acara peresmian pelepasan status mahasiwa, mobil yang dikendarai abang, DITILANG. (benar2 polisi perusak suasana!). berita sudah lumayan basi sebenernya, semoga bisa jadi bahan pelajaran buat pembaca semua terutama bagi pengendara daerah bandung dan sekitarnya, polisi amat sangat rajin merazia.
…

…
#flashback
tepat pukul 10, ayah ibu dan abang sampai di arroyan menjemput saya yang sudah sangat gantengnya buat mengahadapi prosesi seumur idup saya.. akhirnya. segera berangkatlah saya + keluarga. sedang waktu kedatangan wisudawan pada saat itu adalah pukul 13.00 dengan perhitungan makan siang + foto studio, akan sangat mepet sekali.
sampai belokan cilenyi setelah plasa padjadjaran dari arah jatinangor, sederet polisi menghalangi jalan saya, mengarahkan mobil ke bahu jalan. aaaah…. #adaadaaja.
segera saya tanya si abang “surat lengkap kan nip?” dengan muka stres dia jawab ”gw ga bawa dompet”. ayah ibu speechless dibelakang. #halah.
sampainya dibahu jalan polisi bilang “tolong surat2 dikeluarkan”. entah kenapa menurut saya ekspresi polisi itu terkesan sumringah. turunlah saya kaka dan abang. kaka saya “waah saya ga bawa sim pak, saya gantiin ayah saya, tadi ayah saya yang bawa dari jakarta”. lalu ayah saya diminta mengeluarkan sim-nya. polisi itu dengan ramah bilang “sebenernya kesalahanannya, anak bapak TIDAK PAKAI SEAT BELT”.
beruntung malamnya, saya dan rekan2 ngebaso dengan topik pembicaraan SLIP BIRU, karena saya ga mau nego2an, atau ngasih nafkah yang entah syubhat atau haram buat polisi dan keluarganya. segera saya bilang “pak saya minta SLIP BIRU!”. karena memang mekanismenya mudah dan cepat dibanding SLIP MERAH. terlebih dengan pertimbangan jam 13.00 saya sudah harus ada di graha sanusi.
diisilah slip biru oleh pak polisi, seperti halnya kwitansi, ada 2 Lembar: lembar pertama untuk pak polisi, dan lembar kedua untuk tersangka tilang. yang buat saya aneh, dilingkarkan denda RP. 250.000, tapi hanya pada lembar yang kedua. (dalem hati: sinting! mahal bgt! kmrn anak aroyan juga ketilang motor ga bawa stnk dan sim, sama besar dendanya! #terlalu… entah apa pertimbangannya, entah adil atau tidak). tanpa perpanjang urusan, saya tanya nama pak polisi, pak polisi bilang namanya sudah ditulis di slip tilang yang dia kasih. saya harus kemana?, dia bilang saya harus ke polsek cilenyi. oh, bukannya saya harus ke bank ya pak?, bukan. dimana polseknya? diperempatan.
taukah kalian? disetiap razia yang dilakuin polisi, selalu mereka pakai helm dan jaket warna hijau. seharusnya dijaket warna ijo diposisi dada sebelah kanan tertera nametag, sayangnya nametag tersebut, bisa dilepas pakai. udah jadi rahasia umum, kalo razia juga bisa jadi sumber pemasukan utama buat polisi lalu lintas, melalui mekanisme ‘damai ditempat’.
mekanisme ‘damai ditempat’ ini nih yang di mata saya jadi citra terbobrok polisi indonesia. kesannya win-win solution, lo enak dapet duit, gw enak ga perlu ribet setelahnya. kadang bisa nego, bisa juga bayar sukarela. saya yakin dari 100 orang tersangka tilang, <50% yang menjalankan prosedur hukumnya. seharusnya ada survey buat ngebuktiin ini. kalo bener adanya, terus apa gunanya hukum berbab2 berpasal2 berayat2?. secara langsung hukum dikerdilkan oleh oknum penegak hukum itu sendiri. ah.. Indonesia! jangan sampai kita jadi salah satunya. please don’t!.
FYI tentang SLIP BIRU NIH:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bagi para pengendara kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat, mungkin pernah mempunyai pengalaman kena tilang (tindakan langsung). Baik saat kedapatan razia maupun pada saat melakukan pelanggaran lalu lintas.
Kini jika Anda ditilang, siapapun berhak meminta slip berwarna biru. Selain ikut sidang dan membayar ke BRI, dengan slip biru pelanggar bisa memberi uang titipan ke petugas (polisi). Dengan cara ini, pelanggar secara langsung memberi kuasa kepada polisi untuk hadir disidang dan perkaranya akan disidangkan secara verstek.
Kalau slip merah, berarti kita menyangkal kalau melanggar aturan dan mau membela diri secara hukum. Kalau kita dapat slip merah, berarti kita akan disidang dan SIM/STNK kita harus kita ambil di pengadilan setempat.
Penegasan Kepala Direktorat Lalu lintas ini dituangkan dalam bentuk Surat telegram No. Pol: ST / 86/X/2008 dan ditujukan kepada seluruh para Kapolres dan para Kasat Lantas Jajaran Polda Metro Jaya.
Dengan klarifikasi ini memungkinkan pelanggar lalu lintas yang ditilang polisi dapat meminta kepada petugas di lapangan untuk ditilang dengan menggunakan blanko warna biru atau bisa juga blanko warna merah, seperti dikutip dari situs Polda Metro Jaya, Selasa (21/2/2012).
Berikut ini prosedur proses penilangan menggunakan tilang warna biru, pelanggar yang langsung mengakui perbuatannya akan diberi slip biru oleh polisi lalu lintas dan dapat menyetor denda ke BRI. Bukti setoran lalu dibawa ke kantor polisi untuk mengambil SIM/STNK.(*)
#kembalikecerita
segera saya menuju perempatan, ternyata diperempatan cilenyi bukan polsek, tapi semacem kantor dinas perhubungan untuk jalan tol purbalenyi. ternyata polseknya masuk ke dalem jalan panyawungan. (pak polisi ga bener, ga detail ngasih taunya). jadi saya muter balik lagi. menuju polsek dijalan panyawungan. (jalan dibelakang halte bis cileunyi).
sampailah di polsek cileunyi, disambut dengan polisi semacam polisi resepsionis.
saya: “pak, saya barusan ditilang, diarahkan kesini, saya mau urus secepatnya”.
polisi x: “waah, saya ga ngerti dek”. pak polisi masuk k dalem,manggil rekannya
polisi z: “semua anggota ditlantas sedang operasi, adik tunggu saja disini”.
saya: “saya ga bisa nunggu pak, saya mau wisuda, saya buru-buru”.
polisi z: “yaa saya ga tau dek. bukan bagian saya”.
saya: “bapak kan polisi juga. ko bisa ga tau? saya ga bisa nunggu saya mau kepastian, bapak kan bisa telpon temen bapak, tadi teman bapak suruh saya ke sini, segera saya kesini, dan saya ga tau harus apa. prosedurnya gmn”
panjanglah, akhirnya polisi z, karena kengototan saya, suaranya naik, masuk ke belakang, manggil atasannya. “yang saya mau cuma kepastian prosedur, saya mau jujur kenapa saya jadi susah!”. akhirnya dipanggilah kaditlantasnya.
kaditlantas polsek cilenyi, dateng sama seorang polwan. langsung nanganin kasus saya. terlihat namanya di dada sebelah kanan Sulman Azis. orangnya baik dan kooperatif. setelah sedikit tanya jawab, beliau bilang saya bayar ke teller BRI. saya tanya kenapa saya disuruh ke polsek oleh pak polisi yang nilang saya. entahlah, pokonya prosedur selanjutnya adalah ke Bank BRI terdekat, RS AL-Ma’soem.
di RS Al-Ma’soem segera saya keluarin itu slip biru sama uang 250 ribu kasih ke teller-nya. and what? si teller bingung! karena di slip biru yang dikasih pak polisi ga tertera ke nomor rekening mana dia harus masukin itu duit 250 ribu. walhasil dibantu satpan dan pegawai bank lain. teteh teller nyerah dengan ucapan “maaf”. makin gondoklah saya.
saya kembali ke TKP tempat saya ditilang, nampak polisi2 tadi sudah bubar, polisi yang nilang mobil saya tadi, manggil saya, posisinya sudah dimotor menuju polsek sama seorang polisi tinggi besar. langsung saya tegur, pak tolong jangan permainin saya. tadi adik sendiri yang minta slip biru. suara saya naik, tapi bapak ga jelas jelasin prosedurnya gimana!. pak polisi yang tinggi besar jg naik suaranya, cegah saya menaikan suara. saya sarjana hukum dik, kamu calon sarjana ***** (saya lupa dia bilang apa). bapak sarjana hukum? hukum apa yang ga jelas prosedurnya!. suara kami merendah, astaghfirulloh dalam hati. segera kedua polisi itu mengarahkan kami untuk ke polsek, dengan alasan tidak enak dilihat orang.
#wooooyyyguaaamauwisudaaaa!!
kayaknya karena kasus saya, semua polisi lantas yang sedang razia ditarik ke markas. langsung saya ayah dan abang ke ruangan ditlantas polsek cilenyi. saya dengan suara tinggi, dengan beberapa penekanan:
1. polisi yang menilang saya tidak mendapatkan pencerdasan tentang prosedur slip biru, ketika saya tanyakan saya harus ke bank, dia bilang ke polsek. dan ternyata kaditlantas merujuk saya ke bank!.
2. mekanisme yang ga jelas tentang slip biru. kenapa ketika saya ke bank ternyata saya masih belum bisa selesai urusan!. merujuk artikel di atas, gampang bgt prosedurnya.
3. waktu saya banyak kebuang sia2 untuk sesuatu yang ga jelas prosedurnya. 3x kali saya muter2 cilenyi dan ga dapet apa2. sedang saya buru2!. kalo kalian jadi wisudawan kaya saya, mungkin kalian ngerti gimanalah rasanya ditilang dihari wisuda..
yang pertama Pa Sulman menjelaskan, anak buahnya sudah sesuai prosedur, (padahal jelas2 salah rujuk. mungkin karena ingin melindungi anak buahnya). yang kedua beliau bilang, barusan telpon kaditlantas polda jabar, memang untuk slip biru di jawa barat belum berlaku secara umum karena belum ada bank mana yang dirujuk untuk pembayaran, seharusnya aturan ini sudah bisa dijalankan secara nasional. (teman saya kemarin ditilang di bandung pak, dan dia bilang bisa!. diartikel diatas jelas, bank-nya bank BRI!. aturan ini udah dari tahun 2009, dan jawa barat belum bisa diterapkan, #hellyeah!. menurut saya tetap aturan ini cacat dalam penerapan!).
#debatpanjangakhirnya.
emosi saya naik. ayah saya minta maaf atas keidealisan saya. polisi penilang merasa tersudut. “bapak itu sudah saya toleransi! harusnya bapak kena dua pasal! tapi saya jadikan 1 pasal”. #halah. inilah indonesia hukum bisa ditoleransi!
akhirnya Pa kaditlantas bilang, untuk kasus bapak biar kami yang tangani pembayarannya, simnya silakan bapak bawa.
#eaaaaaa
posisi balik, gw yg disogok! kesel memuncak!
“saya bukannya tidak mau bayar!, yang saya mau cuma kepastian prosedur, bagaimana jelasnya!” cuma itu… saya berdiri saya taro uang 250ribu dimeja kaditlantas.
“SAYA KECEWA DENGAN POLISI INDONESIA!”
saya langsung masuk kedalam mobil, masih dengan kesel hampir tingkat dewa.
akhirnya ayah + abang saya nyusul ke dalam mobil, dengan sim dan uang 250 ribu ditangan. alias pak polisi ga mau terima uangnya! saya juga kesel sama ayah + abang saya kenapa uangnya ga ditinggal aja!
sudahlah. akhirnya saya wisuda. sampai d.u. tepat waktu!.
…
beberapa cerita teman, juga sempet baca dari blog/BM untuk pelanggaran slip biru soal mengakui kesalahan dan sidang ditempat. ternyata berubah dengan UU No. 22 2009. slip biru dikenakan denda maksimal. bisa diliat di:
http://djpp.depkumham.go.id/inc/buka…5odG0manM9MSI7
jangan kaget kalo denda slip biru jauh lebih mahal, kalo sidang slip merah antara 30-50 ribu, slip biru bisa 10 kali lipat! bahkan lebih.
slip biru ini juga cacat, menurut saya, kalo di artikel di atas, uang denda maksimal sebagai uang titipan ke polisi, kita bisa ambil sisanya kalo kita ikut sidang. -> aneh kan?. mending minta slip merah aja sekalian!
slip biru tadinya saya pikir semacam reformasi birokrasi, jawaban dari praktik damai antara polantas dan pelaku pelanggaran. karena prosesnya cepat dan mudah, langsung masuk ke kas negara. namun ternyata negara kita belum siap untuk itu. proses damai akan tetap subur ever after sepertinya. entahlah.
…
semua pandangan saya, mungkin subjektif, saya mohon maaf.
semoga manfaat!
wallohu’alam.
Kiat-kiat Memilih Suami Sholeh
1. Faham, Dan mengamalkan Al-qur’an Dan Assunnah
2. Minimal Shalat 5 waktu (wajib) Dan Puasanya
3. Tidak mau Berduaan Dan tidak mau Menyentuhmu Sampai Allah Halalkan
4. Pekerja Aktif pada Rizki Yang Halal
5. Figur Penyayang Kepada Orang Tua,…
Hal-hal kayak gini nih yang bikin kangen kampus. Banyaaaakkk banget acara-acara yang positif.
Pemenang selalu menjadi bagian dari jawaban
Pecundang selalu menjadi bagian dari masalah
Pemenang selalu punya program
Pecundang selalu punya kambing hitam
Pemenang selalu berkata,”Biarkan saya yang mengerjakannya untuk Anda”
Pecundang selalu berkata,” Itu bukan pekerjaan saya.”
…
Yang fana adalah waktu.Kita abadi:
memungut detik demi detik,merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.
-Sapardi Djoko Damono
Awalnya aku mati matian menyelesaikan studi sma dan mulai kuliah
Lalu aku mati matian menyelesaikan kuliah supaya bisa bekerja
Lalu aku mati matian mencari pasangan untuk menikah
Lalu aku mati matian menyekolahkan anak kita agar bisa berhasil
Lalu aku mati matian ingin pensiun
Akhirnya aku tua dan hampir mati
Tiba tiba aku sadar bahwan aku telah lupa untuk HIDUP…
dari babangganteng
Bukber di Panti Werda
22 Agustus 2011